Film tentang Serangan Masjid di Selandia Baru Dilarang

Film tentang Serangan Masjid di Selandia Baru Dilarang

Sedang Trending 3 bulan yang lalu 21

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Bagian kedua dari sinema dokumenter “The Three Faced Terrorist” adapun menggunakan cuplikan dari serangan Masjid 15 Maret setelah dilarang dan diklasifikasikan sebagai tak pantas. Hal itu berdasarkan pada keputusan sementara adapun dikeluarkan buat Kepala Lembaga Sensor Film Selandia Baru, Rupert Ablett-Hampson.

Pada Februari, bagian pertama dari sinema itu pula setelah dilarang. Kini, bagian kedua dengan masa 33 menit itu setelah dirilis dan kembali menggunakan cuplikan ekstensif dari live streaming serangan 15 Maret di masjid Al-Noor di Christchurch, Selandia Baru.

Ini termasuk klip adapun diedit dari informasi warta dan tanyajawab adapun disiarkan segera setelah serangan, disertai dengan sulih bunyi adapun mengklaim bahwa serangan itu dibuat-buat.

“Saya menyesalkan dirilisnya sinema ini adapun hanya mengulang kepedihan keluarga dan teman-teman dari target tewas dalam serangan masjid 15 Maret di Christchurch,” kata Rupert Ablett-Hampson seperti dilansir dari Scoop, Selasa (28/6/2022).

“Video itu menggunakan rekaman ekstensif pembunuhan para jamaah di masjid-masjid pada 15 Maret buat menyebarkan informasi adapun salah adapun mengklaim serangan itu tak terjadi, adapun niscaya sangat menyakitkan bagi mereka adapun kehilangan manusia adapun dicintai,” tambah dia.

Dia mengatakan bahwa dirinya setelah bertindak dan melarang publikasi sinema tersebut, dikarnakan menampilkan kekejaman, kekerasan ekstrim dan merendahkan martabat, tak manusiawi dan merendahkan korbannya.

“Sangat krusial buat membikin keputusan sementara ini agar publik mengetahui bahwa materi ini tak layak menurut hukum Selandia Baru. Warga Selandia Baru tidak becus terlibat dengan konten ini, dan mereka patut melaporkannya ke Departemen Dalam Negeri andaikan mereka melihatnya. Mengunduh, membagikan, dan melihatnya ialah pelanggaran, dan kami setelah memberi tahu lembaga penegak hukum tentang keputusan kami,” jelas Ablett-Hampson

Larangan publikasi tak secara mekanisimpulsif berarti bahwa setiap gambar alias ekstrak pendek darinya pula dilarang. Namun, klip adapun diedit, tangkapan layar, alias fotograf adapun diambil dari film komplet adapun menggambarkan adegan kekerasan, cedera alias kematian, alias adapun mempromosikan terorisme, mungkin pula ilegal.

Sumber

 https://www.scoop.co.nz/stories/PO2206/S00216/acting-chief-censor-bans-video-featuring-the-march-15-mosque-attacks.htm

Selengkapnya