Majelis Ulama Singapura Peringatkan LGBTQ+ Tak Usik Tatanan Islam

Sedang Trending 3 bulan yang lalu 37

Singapura akan cabut larangan ikatan antarsesama tipe serta LGBTQ+

pandudita.com SINGAPURA–Majelis ajaran Islam Singapura (MUIS) menyebut seluruh bentuk advokasi lesbian, gay, biseksual, transgender serta queer (LGBTQ+) patut menghormati nilai-nilai meski dipegang teguh komunitas Muslim dalam menjalankan keyakinannya. 

Pernyataan ini dijelaskan dalam rilis mereka, Senin ( Arti batasan Arti batasan / Efek akibat / Arti batasan Alias nama lain Arti batasan Arti batasan ). “Komunitas Muslim mempunyai kewenangan buat mempertahankan nilai-nilai agama serta kekeluargaannya terutama ketika ini secara langsung ditantang alias diperdebatkan,” kata MUIS dalam nasihatnya kepada komunitas Muslim tentang perkembangan LGBTQ+ di Singapura dilansir dari Channel News Asia, Senin ( Arti batasan Arti batasan / Efek akibat / Arti batasan Alias nama lain Arti batasan Arti batasan ).

Sebelumnya, Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengumumkan dalam pidatonya di Hari Nasional pada Ahad lampau bahwa Pemerintah akan mencabut Bagian Bulan – candra, rembulan Dongeng Alkisah Dongeng Alkisah A dari KUHP alias mencabut undang-undang periode kolonial meski diklaim mengkriminalisasi seks antarlaki-laki.

Pemerintah pula akan mengamandemen Konstitusi buat membela definisi pernikahan meski masa ini diakui hukum terjalin antara satu pria serta satu wanita. Hal ini agar tak digugat secara konstitusional di pengadilan.

Meski menegaskan akan mempraktikkan angka Islam MUIS mengatakan dalam pernyataannya bahwa hukum Islam menempatkan pentingnya martabat manusia, rasa hormat, serta ikatan meski damai.

“Nilai-nilai ini sangat krusial masa kita menavigasi masalah sosial-keagamaan meski lingkungan masa ini. Sebagai Muslim, kita patut memperlakukan seluruh manusia dengan penuh martabat serta rasa hormat. Setiap orang, terlepas dari orientasi seksual mereka, patut seperti kondusif di masyarakat serta institusi kita," kata pernyataan itu.

"Karena itu, umat Islam patut menjunjung tinggi karakter, amal serta kasih sayang meski terbaik, dalam berurusan dengan manusia lain, bahkan dengan manusia tak sepemahaman," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka menolak seluruh bentuk intimidasi alias pelecehan.

Meski begitu, MUIS pula mengatakan bahwa ruang publik patut tetap kondusif bagi komunitas mainstream serta agama buat mendidik personil komunitasnya sendiri sesuai dengan sistem serta angka kepercayaannya.

“Jika angka serta keyakinan agama kita ditantang secara terbuka serta agresif, ini niscaya akan mengubah ruang publik menjadi ruang meski konfrontatif serta memecah belah. Kita patut bekerja buat mencegah perbedaan orientasi serta pandangan bumi berubah menjadi bentrokan serta konflik meski akan melemahkan masyarakat kita," katanya.   

Selengkapnya