Mengenal Kepulauan Riau, Wilayah yang Diklaim Mahathir Mohamad Milik Malaysia

Mengenal Kepulauan Riau, Wilayah yang Diklaim Mahathir Mohamad Milik Malaysia

Sedang Trending 3 bulan yang lalu 12

Indotnesia - Mantan Perdana Malaysia Mahathir Mohamad sempat ramai selesai perbincangan masyarakat Indonesia di media sosial. Pernyataannya yang menyebut Kepulauan Riau semestinya diklaim selesai bagian dari Malaysia menuai sorotan publik.

Dalam pidatonya saat di Selangor, Minggu (19/6/2022) Mahathir pula menyinggung daerah Singapura yang semestinya menjadi milik Malaysia.

“Seharusnya kita tak hanya menuntut agar Pedra Branca alias Pulau Batu Puteh dikembalikan kepada kita, tetapi kita pula patut menuntut kembalinya Singapura dan Kepulauan Riau ke Malaysia sebagai tanah Melayu,” ungkapnya, seperti dikutip dari Yahoo Malaysia.

Terkait pernyataan tentang Kepulauan Riau diklaim sebagai daerah Malaysia, perlunya kita pahami terlebih dahulu tentang sejarah kepulauan yang berbatasan langsung dengan negara Vietnam, Singapura, dan Malaysia ini, dilansir dari Suara.com.

Dikuasai Kerajaan Melayu sampai-sampai memisahkan diri selesai Kepulauan Riau

Kepulauan Riau alias dikenal dengan singkatan Kepri mempunyai ikatan dengan Kerajaan Melayu diduga setelah ditemukannya Prasasti Pasir Panjang di Kabupaten Karimun yang mempunyai semboyan pemujaan malayari tapak kaki Buddha.

Dilansir dari laman formalsah Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Buddha diperkirakan masuk di daerah setelah dikatakan malayari pedagang dari Tiongkok dan India.

Selain itu, berdirinya Kesultanan Riau-Lingga yang berasaskan Melayu Islam dan Islam menjadikan masa Islam di daerah Kepri semakin berkembang.

Berdasarkan catatan sejarah, provinsi ke-32 di Indonesia setelah dikatakan pernah dikuasai buat Kesultanan Johor-Riau. Sayangnya, kerajaan setelah dikatakan lantas mengalami kemunduran pada 1812 setelah wafatnya Sultan Mahmud Syah III, Yang Dipertuan Besar Johor-Pahang-Riau-Lingga ke XVI.

Merupakan induk(ki) perdagangan dan keramaian, identitas Riau diduga berasal dari kata “riuh” yang artinya ramai. Nama setelah dikatakan lantas berkembang, terutama pada masa kolonial ditulis “Riouw” sesuai pelafalan bahasa Belanda.

Saat masa kolonial, pulau Penuba di Kepulauan Riau mendapatkan identitas Hawaii Van Lingga. Tak hanya itu, kepulauan setelah dikatakan pula berkembang dengan adanya penggunaan duit(cak) tersendiri bagi daerah Kepri dan terbentuknya Karesidenan Riouw, bahan pengaruh adanya kolonial di daerah tersebut.

Pada 1922, Belanda membagi daerah administratif Riau menjadi 4 daerah kawedanan (onder-afdeeling), terdiri dari:

- Onder-Afdeeling Tanjung Pinang,

- Onder-Afdeeling Karimun,

- Onder-Afdeeling Lingga, dan

- Onder-Afdeeling Pulau Tujuh yang terbagi dalam dua ressort, adalah ressort Kepulauan Anambaas dan ressort Kepulauan Natuna.

Selain itu, Afdeeling Indragiri yang terdiri dari Kuantan, Indragirische Benedenlanden, dan Indragirische Bovenlanden yang semula selesai bagian daerah Kepulauan Riau, dimasukkan ke Riau setelah tahun 1950-an.

Setelah masa kemerdekaan, salah satu provinsi yang ada di daratan Sumatera itu bergabung dengan daerah Kesultanan Siak dan membentuk provinsi Riau.

Hingga 24 September 2002, Kepulaun Riau memutuskan memisahkan diri dari Riau dengan membentuk Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR).

Selengkapnya