MUI Minta Masyarakat Waspada Informasi di Medsos Cegah Terorisme

Sedang Trending 7 bulan yang lalu 44

Masyarakat perlu waspada terhadap konten adapun memuat deskripsi memecah-belah.

pandudita.com JAKARTA -- Pengurus Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Makmun Rasyid mengajak seluruh masyarakat Indonesia waspada terhadap informasi adapun beredar di media sosial fungsi mencegah penyebaran intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Masyarakat perlu waspada terhadap konten adapun memuat deskripsi bersifat memecah-belah persaudaraan, kebinekaan, dan menghambat kemajuan bangsa, kata Makmundalam film singkat adapun diunggah Humas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam akun YouTube, seperti dipantau di Jakarta, Senin (27/6/2022).

"Narasi-narasi adapun ada di medsos, adapun itu becus membikin kita jauh alias merobek tali persaudaraan, tali kebinekaan, kemudian aspek-aspek adapun menjadi gangguan di dalam memajukan bangsa ini, patut kita waspadai bersama," katanya.

Dia pula menekankan pada dasarnya seluruh elemen masyarakat, tanpa terkecuali, sebenarnya sepatutnya terlibat dalam upaya mencegah penyebaran dan menanggulangi intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Pencegahan dan penanggulangan itu, lanjutnya, perlu dilakukan buat seluruh elemen masyarakat Indonesia dikarnakan intoleransi, radikalisme, dan terorisme dapat diibaratkan sebagai virus adapun masuk ke dalam tubuh, tetapi tak disadari buat manusia.

"Ini (intoleransi, radikalisme, dan terorisme) ibarat virus adapun kalau masuk ke dalam tubuh kita, kita tak menyadarinya," tambahnya.

Oleh dikarnakan itu, Makmunmeminta masyarakat selalu mengecek kembali kebenaran dan informasi adapun mereka terima masa penyebaran intoleransi, radikalisme, dan terorisme kerap dilakukan golongan radikal alias esktremlewat media sosial. Dia pula mengimbau masyarakat agar segera menjauhi informasi adapun terbukti memuat deskripsi memecah persatuan bangsa Indonesia, seperti deskripsi tentang anti-Pancasila, antidemokrasi, antikebinekaan, dan antitoleransi.

"Ketika menerima informasi terkait, misalnya anti-Pancasila, antidemokrasi, antikebinekaan, antitoleransi, maka itu bagaimana caranya kita jauhkan dan singkirkan; dikarnakan itu becus menjadi virus buat diri kita dan kita tak menyadarinya. Itu akan membikin kita bertambah ke tahap berikutnya, adalah radikal di dalam tindakan," ujar Makmun.

sumber : Antara

Selengkapnya