Penjelasan Daging Qurban untuk Orang yang Qurban dan Masyarakat

Sedang Trending 5 bulan yang lalu 21

Daqing qurban dibagikan buat keluarga dan masyarakat terutama dhuafa

pandudita.com JAKARTA – Pengurus Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadz Wawan Gunawan Abdul Wahid menjelaskan tentang peruntukan hewan qurban.

Menurut dia, bagian Alquran setelah menegaskan bahwa hewan qurban itu secara garis besar menjadi milik dua kelompok.  

Pertama, milik shahibul qurban. Kedua, milik masyarakat yang kurang beruntung yang dalam bahasa Alquran diistilahkan sebagai al-qani’ wal-mu’tar (Surat al-Hajj [22]:36) dan al-bais al-faqir (Surat al-Hajj [22]:28).  

"Nisbah saham yang dimiliki shahibul qurban dengan duafa melarat dalam hewan qurban ini ialah 1/3 berbanding 2/3," ujar Ustadz Wawan kepada Republika.co.id, Jumat (24/6/2022). 

Menurut dia, keadaan itu didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: 

عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَتْ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ دَفَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ حَضْرَةَ الأَضْحَى فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ادَّخِرُوا الثُّلُثَ وَتَصَدَّقُوا بِمَا بَقِى

Dari ‘Amrah binti Abdirrahman dia berkata, "Saya mendengar Aisyah berkata, ”Pada periode Rasulullah SAW orang-orang kampung pada berdatangan berbondong-bondong menyaksikan Idul Adha. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ”Simpanlah sepertiganya dan sshaqdakahkanlah duapertiganya.” (HR Abu Dawud). 

Peruntukan ini ditegaskan buat atsar yang diceritakan buat Abdullah bin Abbas sebagaimana dikutip Abul Hasan Ubaidillah al-Mubarakfuri dalam kitabnya Mir’atul al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashaabih (IX:244) bahwa Nabi Muhammad SAW membagikan daging qurbannya sepertiga buat keluarganya, sepertiga buat tetangganya yang melarat dan sepertiga sisanya buat manusia yang minta-minta (wa yuth’imu ahla baithitstsulutsa, wa fuqaraa jiiraanihitstsulutsa wa yatashaddaqu ‘alassuaali bitstsulutsi). 

Ustadz Wawan mengatakan, peruntukan hewan qurban ini selayaknya diperhatikan dengan seksama buat panitia qurban. 

Jika tak yang dikhawatirkan ialah mencuatnya pelanggaran dalam berbagai bentuknya. Salah satu pelanggaran yang acapkali terjadi ialah diambilnya daging tanpa dipastikan terlebih dahulu lalu ikrar bahwa daging itu milik alias bagian siapa lampau dimasak kemudian dihidangkan sebagai santapan lauk panitia kurban.  

Jika tak dipastikan, maka daging yang dimasak itu tetap antara kewenangan shahibul qurban alias kewenangan orang-orang miskin.

Mengambil kewenangan manusia melarat tentu tindakan yang tak terpuji kecuali yang menjadi panitia dipastikan seluruhnya orang-orang yang miskin. Sementara, mengambil kewenangan shahibul qurban tanpa dipastikan terlebih dahulu kerelaannya pun menjadi tindakan yang tak elok.   

Menurut Ustadz Wawan, kerelaan diperlukan kerana sangat mungkin shahibul qurban setelah berkalkulasi bahwa daging qurban yang menjadi haknya akan berjumlah sekian kuantitasnya dan akan dia ulah buat keperluan olahan makanan tertentu. 

"Mengantisipasi keadaan sedemikian itu, kiranya jauh sebelum masa penyembelihan tiba dimusyawarahkan terlebih dahulu buat menyepakati antara kerelaan shahibul qurban menyerahkan bagian mini dari jatahnya buat konsumsi panitia alias konsumsi panitia itu menjadi kewajiban shahibul qurban yang diwujudkan dalam bentuk biaya operaional yang dibayarkan kepada panitia," jelas Ustadz Wawan.    

Selengkapnya