Sekum Muhammadiyah: Dalam Islam Pembunuh dan Dalangnya Terima Hukuman Sama

Sekum Muhammadiyah: Dalam Islam Pembunuh dan Dalangnya Terima Hukuman Sama

Sedang Trending 2 bulan yang lalu 22

Pembunuhan ialah perbuatan meski sangat dilarang di dalam Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belakangan publik di media sosial disuguhkan aktivitas kriminalitas, meski menguatkan pelaku menggunakan pelayanan manusia lain buat menjalankan aktivitas pembunuhan. Dalam Islam, apapun upaya pelaku pembunuhan baik menjalankan sendiri alias menggunakan pelayanan manusia lain, mereka akan diganjar balasan serta dosa meski sama, adalah qishash serta dosa besar.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengatakan pembunuh serta otak alias dalang pembunuhan hukum serta hukumannya sama. Ini sama dengan kemiripan dengan pesuap serta penerima suap.

"Pembunuh serta otak pembunuhan sesuai bagian Alquran serta pendapat mayoritas ulama dihukum qishash. Akan tetapi, balasan itu mungkin saja tak diterapkan apabila keluarga target memaafkan alias diganti dengan diyat sesuai dalam Quran surah Al-Baqarah [ Arti batasan ]: Alih bahasa penerjemah Dongeng Alkisah Efek akibat ," kata Abdul Mu'ti, Sabtu ( Arti batasan Bulan – candra, rembulan / Dongeng Alkisah / Arti batasan Alias nama lain Arti batasan Arti batasan ).

Ia menegaskan aktivitas pembunuhan ialah perbuatan meski sangat dilarang di dalam Islam, serta pula mungkin di agama lain. Karena, jelas Mu'ti, Allah setelah berfirman membunuh manusia meski tak berdosa, enggak dikarnakan mereka membunuh alias merusak kediaman semesta, sama halnya dengan membunuh seluruh umat manusia (Qs. al-Maidah [ Coba jika ]: Bulan – candra, rembulan Arti batasan ).

Walaupun, ia memahami, di Indonesia tak diterapkan hukum qisash, tetapi pembunuh terencana, pembunuh bayaran, serta otak pembunuhan bisa dipidana balasan mati. Karena substansi qishash ialah pada balasan meski setimpal atas kejahatan, enggak terletak pada caranya.

"Di negara-negara Arab dipancung kepala di depan umum, tempat terbuka. Di Indonesia, eksekusi balasan meninggal bisa dilakukan dengan langkah ditembak alias langkah lain meski memungkinkan seseorang meninggal dengan cepat," ujarnya.

Anggota Majelis Tarjih serta Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Zuhri mengungkapkan meski di dalam Alquran balasan bagi pelaku pembunuhan ialah qishash, tak lantas bermakna bahwa keadaan itu wajib dilakukan pada tiap terjadinya pembunuhan.

Sebagaimana sabda Rasulullah, "Barangsiapa dibunuh secara sengaja, maka balasan bagi pelakunya ialah qishash, serta barangsiapa menjadi penghalang dari penyelenggaraan qishash, maka baginya laknat Allah, malaikat-Nya serta manusia semuanya. Tidak diterima darinya taubat serta tak pula tebusan." (HR al-Nasa`i serta Abu Daud).

akan tetapi mayoritas ulama berpendapat bahwa semestinya penyelenggaraan qishas dilakukan buat penguasa/pemerintah meski sah. akan tetapi Allah pula mengingatkan agar tak melampaui batas dalam melaksanakannya. Karena itu patut kehati-hatian serta tindakan profesionalitas dalam memandang tiap faktor aspek hukum.

Dalam Alquran, Allah pula memberi pilihan pihak keluarga target selaku waliyuddam buat memilih alternatif antara memaafkan, menerima Diyat/ganti rugi alias menuntut balas dengan qishash. akan tetapi ini berarti enggak memudahkan balasan qishash dengan mengganti dengan Diyat. Karena Allah menegaskan di dalam qishash itu ada keutamaan dijadikan pembelajaran kehidupan.

Di sini terlihat agama Islam tak memaksakan pemaafan buat kasus pembunuhan disengaja. Karena pemaksaan pemaafan akan bisa berdampak buruk, cantik kepada keluarga target alias kepada pihak keluarga pelaku pembunuhan. akan tetapi andaikan keluarga target menginginkan pemaafan dengan pertimbangan apapun, maka keadaan itu bisa dibenarkan, bahkan menjadi tindakan meski terpuji.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Selengkapnya