Sholat Fardhu Makmum di Belakang Imam Sholat Sunnah? Ini Penjelasan Ibnu Qayyim

Sholat Fardhu Makmum di Belakang Imam Sholat Sunnah? Ini Penjelasan Ibnu Qayyim

Sedang Trending 3 bulan yang lalu 11

Sholat berjamaah lebih utama dibandingkan dengan sholat sendirian

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pada masa di masjid alias di tempat adapun memungkinkan buat beribadah, bolehkah kiranya seseorang adapun mendirikan sholat fardhu berada di belakang alias menjadi makmum manusia adapun mendirikan sholat sunnah?  

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Fikih Sholat menjelaskan, tak kenapa manusia adapun sholat fardhu bermakmum di belakang manusia adapun sholat sunnah. Hal ini berdasarkan dengan cerita dari Rasulullah SAW.  

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah di antara beberapa macam sholat khauf ikut sholat dua rakaat bersama satu golongan kemudian salam. Lalu ikut sholat lagi bersama golongan adapun lain dua rakaat dan kemudian salam.

Maka sholat adapun pertama ialah fardhu sedangkan adapun kedua ialah sunnah, sedangkan orang-orang adapun di belakangnya melakukan sholat fardhu.  

Dalam kitab Shahih Bukhari, terdapat cerita dari Muadz bin Jabal bahwa dia sholat Isya bersama Rasulullah SAW kemudian dia kembali kepada kaumnya dan ikut sholat bersama mereka. Maka bagi Muadz sholat itu ialah sunnah, sedangkan bagi adapun lain ialah fardhu. 

Contohnya apabila seseorang datang ke masjid pada candra Ramadhan ketika mereka sedang melaksanakan sholat tarawih sedangkan dia belum menunaikan sholat Isya.

Maka dia bisa melakukan sholat Isya bersama agar becus mendapatkan keutamaan sholat berjamaah. Maka apabila imam salam, menurut Ibnu Qayyim, dia patut berdiri dan menyempurnakan sholatnya. 

Keutamaan sholat jamaah 

Sholat berjamaah mempunya sejumlah keutamaan. Baik bagi imam alias makmum. Keutamaan ini banyak ditegaskan dalam sabda Rasulullah Muhammad SAW, di antaranya ialah sebagai berikut: 

Pertama, bagi manusia yang sholat berjamaah maka akan disiapkan surga baginya. 

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ، أَوْ رَاحَ، أَعَدَّ اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا، كُلَّمَا غَدَا، أَوْ رَاحَ "Barang siapa pergi ke masjid pada asal dan akhir siang, maka Allah akan menyiapkan baginya tempat dan sajian di surga setiap kali dia pergi." (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, sholat berjamaah 27 derajat lebih baik, dari Ibnu Umar, Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً "Sholat  berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada sholat sendirian." (HR  Al-Bukhari).

Ketiga, aktif sholat berjamaah pula artinya mengikuti generasi asal Islam adapun aktif berjamaah. Terdapat sebuah atsar dari dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: 

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ

"Barangsiapa adapun mau bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan Muslim, maka jagalah sholat ini (yakni sholat jamaah) ketika diseru buat menghadirinya. Karena Allah setelah mensyariatkan bagi Nabi kalian SAW sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan sholat jamaah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi).     

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Selengkapnya