Singapura Jatuhi Kurungan 18 Bulan Mahasiswa Unggah Konten Anti-Islam

Singapura Jatuhi Kurungan 18 Bulan Mahasiswa Unggah Konten Anti-Islam

Sedang Trending 3 bulan yang lalu 23

Dia dinilai mempunyai maksud melukai emosi keagamaan manusia lain.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA -- Seorang pemuda yang pula satu manusia mahasiswa mendapat balasan percobaan kurungan selama 18 bulan, setelah ia memposting komentar anti-Islam di garishaluan media sosial Instagram. Sebagaimana diberitakan The Strait Times, Kamis (23/6/2022), pemuda yang berusia 21 tahun itu bernama Sun Sicong.

Sebagai balasan percobaan, Sun diwajibkan dikurung di kediamannya dari pukul 10 malam sampai-sampai 6 pagi, masa Singapura setiap hari. Dan ia diwajibkan melayani masyarakat selama 60 jam. Untuk menjamin penyelenggaraan hukuman, manusia uzur si pemuda akan didenda 5000 dolar Sing, sebagai tanggungan anaknya tetap berperilaku cantik dan menerima hukuman.

Sebagaimana diketahui, Sun menjadi satu manusia mahasiswa di Temasek Polytechnic (TP), dan menjadi penduduk tetap Singapura. Ia dinyatakan bersalah pada Mei lalu, dikarnakan mengunggah komentar di garishaluan online dengan maksud melukai emosi keagamaan orang lain.

Dia melakukan pelanggaran antara 2018 dan 2019. Dua tuduhan lainnya, termasuk satu tuduhan pelecehan, dipertimbangkan selama hukuman. Awalnya, tak ada dibuat pelaporan ke polisi atas postingan Instastorynya yang menyinggung di akun Instagram miliknya.

Namun pengadilan mendengar bahwa postingan Instastory secara mekanisimpulsif dihapus setelah 24 jam. "Namun, unggahan yang menyinggung itu menongol kembali secara online sekeliling 7 Juni 2020, setelah terdakwa membikin dan mengunggah secara online lebih lanjut unggahan Instastory yang tak sensitif ... menceritakan tangkapan layar, dari target percobaan pemerkosaan, yang ia tambahkan komentar (cabul dan sarat kecabulan)," kata Wakil Jaksa Penuntut Umum Senthilkumaran Sabapathy mengatakan kepada pengadilan.

Atas unggahan yang kembali viral itu, pengguna Instagram lainnya menjadi kesal masa memandang postingan Sun dan menanggapinya. Mereka kemudian merujuk pada tangkapan layar posting anti-Islam sebelumnya, yang menjadi viral segera setelahnya.

Postingan setelah dikatakan disebarluaskan malayari Internet. Polisi kemudian menerima 62 laporan dari personil masyarakat yang seperti terancam dan khawatir setelah memandang postingan dan konten anti-Islam tersebut.

Dalam pernyataan sebelumnya, polisi mengatakan pada Juni 2020, mereka menerima banyak laporan serupa. Laporan tentang pengguna Instagram yang memposting komentar dan ancaman tak sensitif yang bisa memicu kekerasan terhadap komunitas Muslim.

Polisi menambahkan postingan setelah dikatakan berisi komentar kebencian yang bisa melukai emosi keagamaan. Dalam keterangannya, polisi pula mengatakan bahwa mereka mengambil sikap serius terhadap tindakan yang berpotensi merusak kerukunan ras dan agama di Singapura.

Pengacara pelaku, Justin Ng mengatakan kepada Hakim Distrik Kessler Soh pada candra Mei bahwa kliennya tetap berusia sekeliling 18 tahun ketika dia memposting konten dan komentar anti Islam tersebut. Karena itu, ia menilai kliennya melakukan itu tetap belum dewasa.

Sebelumnya, kampus tempat pelaku npelajaran di Temasek Polytechnic (TP), kepada The Straits Times pula setelah memberikan skors kepada pelaku, Sun. Ia mendapatkan skors selama dua semester berturut-turut, selama masa penyelidikan pada Juni 2020.

Singapura setelah berkomitmen akan memberi balasan tegas kepada siapapun yang mengunggah komentar di garishaluan online dengan maksud buat melukai emosi keagamaan manusia lain. Pelaku akan dikenakan balasan penjara sampai-sampai tiga tahun dan didenda beribu-ribu dolar Singapura atas perbuatan tersebut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Selengkapnya