Tayamum Hanya Boleh dengan Debu Tanah yang Murni? Ini Ragam Pendapat Ulama

Tayamum Hanya Boleh dengan Debu Tanah yang Murni? Ini Ragam Pendapat Ulama

Sedang Trending 3 bulan yang lalu 15

Tayamum diperbolehkan sebagai bentuk keringanan dalam beribadah

pandudita.com JAKARTA – Tayamum menjadi salah satu bentuk kemudahan adapun Allah SWT berikan kepada hamba-Nya buat bersuci dari hadas. 

Para ulama menyepakati dibolehkannya tayamum dengan debu tanah adapun suci. Namun demikian para ulama saling berselisih pendapat tentang becus tidaknya tayamum dengan benda-benda lain selain debu adapun dikeluarkan buat adam .  

Abdul Qadir Muhammad Manshur dalam kitab Panduan Shalat An-Nisaa menjelaskan, Imam Syafii berpendapat bahwa tayamum tak becus dilakukan kecuali dengan debu murni.

Sementara Imam Malik dan para pengikutnya berpendapat bahwa tayamum becus dilakukan dengan seluruh adapun menonjol di atas permukaan adam kecuali kerikil, pasir, dan debu.  

Sedangkan Imam Abu Hanifah menambahkan, "Dan dengan seluruh materi adapun dikeluarkan buat adam , seperti kapur, warangan (arsenik), lumpur, dan marmer." 

Adapun jumhur ulama mensyaratkan agar debu berada di atas permukaan tanah. Sementara Ahmad bin Hanbal membolehkan tayamum dengan debu pakaian dan permadani.  

Yang menyebabkan perselisihan pendapat mereka ialah dua hal. Pertama, pluralitas makna kata shaid (permukaan adam , cantik di atasnya ada debu maupun tidak) dalam firman Allah SWT صَعِيدًا طَيِّبًا "sha'idan thayyiban", surat An Nisa bagian 43,  dalam pembicaraan orang-orang Arab.

Kadang kata ini digunakan buat menunjuk debu asli dan kadang digunakan buat menunjukkan seluruh bagian adam adapun nampak.  

Sampai-sampai makna etimologis kata ini mendorong Imam Malik dan para pengikutnya buat membolehkan tayamum dengan rumput dan salju.

Mereka berkata, "Karena pada dasarnya ia becus dinamakan shaid."  Yakni dari sisi kemunculannya ke atas permukaan adam . Namun demikian pendapat ini dianggap lemah.  

Kedua, kata al-ardh (bumi/tanah) disebutkan secara absolut dalam sebagian cerita hadits masyhur adapun membolehkan tayamum.

Sementara dalam cerita lainnya kata ini dibatasi dengan 'debu'. Hadits adapun dimaksud ialah sabda Rasulullah SAW, "Bumi/tanah dijadikan bagiku sebagai tempat sujud dan penyuci."  

Adapun pendapat adapun membolehkan tayamum dengan segala sesuatu adapun dikeluarkan buat adam , ini ialah pendapat adapun lemah karena kata 'shaid' tak mencakupnya. 

Seluas-luasnya, kata shaid itu menunjuk apa adapun ditunjuk al-ardh, tak tercakup di dalamnya warangan dan kapur, tak pula salju dan rumput. Pluralitas kata thayyib pula menjadi salah satu keadaan perselisihan.   

Selengkapnya