Warga Inggris Memilih Berjudi dan Investasi Kripto di Tengah Inflasi yang Memburuk

Warga Inggris Memilih Berjudi dan Investasi Kripto di Tengah Inflasi yang Memburuk

Sedang Trending 3 bulan yang lalu 22

Di tengah inflasi yang melanda, penduduk Inggris memilih buat berjudi dan kapitalisasi kripto fungsi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Inflasi yang melanda negeri Ratu Elizabeth setelah dikatakan membikin biaya hidup di sana memburuk, yang memicu langkah para penduduk buat menyelami pasar kripto.

Memang, pasar kripto yang mempunyai volatilitas tinggi telah memberikan ruang buat mencari keuntungan dalam masa yang singkat.

Terlebih, beberapa pasaruang kripto menyediakan layanan penggunaan leverage dalam perdagangan margin, yang memungkinkan orang-orang bermodal minim buat meraih keuntungan yang besar.

Tentu saja, risiko yang membayangi akan semakin besar. Namun, tetap ada banyak sekali manusia yang belum dapat memahami dan menyadarinya. Aset kripto belum diperlakukan layaknya aset investasi.

Berjudi dan Investasi Kripto Karena Inflasi

Berdasarkan laporan badan amal terkait perjudian di Inggris, GamCare, yang diterima buat Reuters, ada banyak keluhan kekalahan dalam perjudian kripto yang diterima.

Badan amal setelah dikatakan pun melaporkan bahwa, ada lebih banyak manusia yang kembali berjudi di kripto setelah menerima donasi dari mereka. Itu karena desakan biaya hidup yang melonjak.

Sekadar informasi, tingkat inflasi di Inggris termasuk tujuh terbesar, di 9,1 persen pada candra Mei. Bahkan, bank sentral Inggris pun telah memperingatkan inflasi akan melampaui 11 persen pada candra Oktober.

Ini memberi pukulan kuat pada banyak penduduk Inggris, yang patut lebih ekstra keras dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Berdasarkan peninjauan dari YouGov, bersama dengan GamCare, ada lebih dari 4.000 manusia yang telah disurvei. Dan diketahui, 46 persen di antaranya seperti khawatir mengenai situasi keuangan mereka.

Selain itu, lebih dari separuh responden mengatakan bahwa mereka telah kapitalisasi dan berjudi di kripto selama 12 candra terakhir. Nahasnya, sebagian dari mereka malah berakhir dengan kehilangan uang.

“Penasihat saluran donasi kami mendengar bahwa biaya hidup memengaruhi perilaku perjudian orang, terutama para penjudi yang telah pulih,” kata Anna Hemmings, Kepala Eksekutif di GamCare.

Selain itu, tim GamCare pula telah mendengar lebih banyak manusia yang mencari donasi terkait perdagangan aset digital.

Menariknya, badan amal setelah dikatakan mengungkapkan ada 43 persen penjudi yang bermasalah di kripto, tetapi sebagian besarnya tetap mau kembali meletakkan duit(cak) buat mengejar kerugian.

Tentu saja, melibatkan emosi di setiap investasi, termasuk di aset kripto, tak akan berakhir baik. Semua burung(cak) perencanaan yang matang, termasuk dalam kegiatan manajemen risiko. [st]

Selengkapnya